Curhatan Panjang Mesut Ozil Mundur dari Timnas Jerman Karena Rasisme 

BOLA

Mesut Ozil dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan
24 Juli 2018
Curhatan Panjang Mesut Ozil Mundur dari Timnas Jerman Karena Rasisme 

IMAJI.LIVE, MEDAN – Pesepakbola asal Jerman, Mesut Ozil belum lama ini mencurahkan isi hatinya terkait rasisme dan diskriminasi yang ia terima.  

Curhatan panjang yang diunggah melalui akun Twitter pribadi itu berisikan klarifikasi dan sudut pandangnya atas permasalahan foto bersamanya dengan Presiden Erdogan yang terjadi pada Mei lalu. 

“Beberapa minggu terakhir telah memberi saya waktu untuk merefleksikan, dan waktu untuk memikirkan peristiwa-peristiwa dalam beberapa bulan terakhir. Oleh karena itu, saya ingin berbagi pemikiran dan perasaan saya tentang apa yang telah terjadi,” tulisnya sebagai pembuka curhatan. 

Setidaknya ada tiga bagian yang menjadi poin penting bagi pesepakbola yang juga memiliki darah Turki tersebut. Ketiganya yakni pertemuannya dengan Presiden Erdogan, Media dan Sponsor,  serta Federasi sepakbola Jerman DFB.  Ozil menjelaskan panjang lebar bagaimana ia memutuskan untuk berfoto bersama dengan Erdogan di London. Menurutnya, foto ini tak terlepas dari rasa hormatnya terhadap pemimpin negara asal keluarganya itu.  

“Seperti kebanyakan orang, nenek moyang tidak hanya berasal dari satu negara saja. Sementara saya tumbuh besar di Jerman, latar belakang keluarga saya punya akar Turki. Saya punya dua hati, satu Jerman dan satunya Turki. Sejak kecil, ibu saya mengajari untuk selalu menghargai dan tidak boleh melupakan asal muasal saya, dan sampai sekarang nilai ini selalu saya pegang,” tegasnya. 

“Mei yang lalu, saya bertemu dengan Presiden Erdogan di London, ketika menghadiri acara amal dan edukasi. Kami pertama kali bertemu pada tahun 2010 ketika beliau dan Angela Markel menonton laga Jerman vs Turki bersama-sama di Berlin. Sejak saat itu, kami sering bertemu secara tidak sengaja di banyak tempat di dunia. Saya tahu jika foto kami menjadi pemberitaan besar di media Jerman, dan sementara banyak orang menuduh saya berbohong atau penuh dusta, foto kami tidak memuat intensi politik,” lanjut Ozil. 

Ia menegaskan bahwa pertemuan tersebut tidak ada unsur politik sebagaimana diberitakan oleh media Jerman. Selama ini pemerintah Jerman bersikap kritis terhadap kampaye Erdogan untuk menarik dukungan dari kalangan keturunan Turki yang bermukim di negara-negara Eropa. 

“Pekerjaan saya adalah sebagai pesepakbola, bukan politikus, dan pertemuan kami bukan sebuah bentuk dukungan politik. Faktanya, ketika kami bertemu, topik obrolan masih sama, yaitu sepak bola lantaran beliau juga pemain sepak bola di masa mudanya.” sambungnya.

"Bagi saya, tidak menjadi masalah siapa yang menjadi presiden, yang penting adalah sang presiden," ujar Ozil.

 Ia juga mengutarakan kekecewaannya terhadap pemberitaan sejumlah media Jerman usai kegagalan di Piala Dunia. Ozil merasa pemberitaan yang ada melenceng dari alur seharusnya.

 “Koran-koran tertentu di Jerman menggunakan latar belakang keluarga saya dan foto bersama Presiden Erdogan sebagai propaganda sayap kanan demi kepentingan politik mereka. Mengapa mereka tidak memakai foto dan nama saya saja untuk menjelaskan kegagalan di Rusia? Mereka tidak mengkritik permainan saya, mereka tidak mengkritik permainan tim, mereka hanya mengkritik leluhur Turki yang saya miliki. Ini sudah melanggar batas. Koran-koran mengarahkan seluruh bangsa Jerman untuk melawan saya,” katanya. 

Ia juga mencurahkan bagaimana dampak dari pemberitaan tersebut terhadap kegiatan amal yang ingin dilakukannya. 

“Beberapa hari sebelum kunjungan, mitra saya mengatakan dia tak mau bekerja sama dengan saya untuk saat ini. Sekolah yang saya bantu juga memberi tahu saya bahwa mereka tak ingin saya datang karena takut dengan media menyusul foto saya dengan Presiden Erdogan. Mereka takut terutama dengan kelompok sayap kanan yang sedang tumbuh di Gelsenkirchen. Ini sangat menyakitkan. Saya adalah murid di sekolah itu saat kecil dan sekarang saya merasa dicampakkan dan tak diinginkan,” lanjutnya. 

Kekecewaan pria kelahiran 15 Oktober 1988 itu juga tertuju pada Federasi Sepak Bola Jerman (DFB), terutama Presiden DFB Reinhard Grindel.  Ia merasa DFB meremehkannya saat berusaha menjawab klarifikasi kepada federasi beberapa waktu lalu.

 “Saat saya mencoba menjelaskan kepada Grindel tentang asal usul leluhur saya sebagai alasan di balik foto tersebut, dia malah berbicara tentang pandangan politiknya dan meremehkan pendapat saya. Toh, kami sepakat untuk berkonsentrasi di sepak bola dan Piala Dunia. Ini yang menyebabkan saya tak menghadiri jumpa pers selama persiapan Piala Dunia. Saya tahu wartawan akan membicarakan politik dan bukan sepak bola. Mereka akan menyerang saya dan untungnya Oliver Bierhoff bisa meredam persoalan itu dalam wawancara dengan sebuah stasiun televisi sebelum uji coba menghadapi Arab Saudi di Leverkusen,” paparnya. 

Ozil menegaskan pernyataan panjang yang ditulisnya murni berasal dari dalam diri sendiri. Bukan karena dorongan orang lain. “Meski saya membayar pajak di Jerman, menyumbang untuk fasilitas pendidikan di Jerman, dan memenangi Piala Dunia bersama Jerman pada 2014, saya tetap tidak diterima di masyarakat. Saya diperlakukan sebagai ‘liyan’,” lanjutnya. 

Di akhir curhatan, Ozil masih tidak habis pikir mengapa diskriminasi ini diraihnya meski sejumlah prestasi yang dirainya telah dipersembahkan untuk negara. 

“Saya pernah sangat bangga dan bersemangat memakai jersey Jerman, tetapi sekarang tak lagi merasakan gelora yang sama. Keputusan ini sangat sulit. Saya selalu memberikan segalanya untuk rekan-rekan setim, staf kepelatihan, dan orang-orang baik di Jerman. Tetapi ketika pejabat teras DFB memperlakukan saya seperti ini, melecehkan akar Turki yang saya miliki dan secara egois memanfaatkan saya untuk propaganda politik, maka cukup sudah. Bukan untuk hal ihwal seperti ini saya bermain bola. Saya tak akan diam. Rasisme harus benar-benar disingkirkan,” tutupnya.         

 


  • TAGS
  • mesut ozil
  • erdogan