Orang Medan Wajib Tahu! Cerita Perjuangan Seniman Mural di Pajak Ikan Lama yang Tak Terekspos

SENI BUDAYA

Genta Rekayasa, seniman yang menggambar mural di bangunan area Pajak Ikan Lama. (Imaji/Andi Firmansyah)
02 Juni 2019
Orang Medan Wajib Tahu! Cerita Perjuangan Seniman Mural di Pajak Ikan Lama yang Tak Terekspos

IMAJI.LIVE - Kawasan Jalan Stasiun Kereta Api, Pajak Ikan Lama mulai naik daun.

Mural-mural di beberapa tembok bangunan toko menarik perhatian para pengguna jalan.

Meski belum selesai dikerjakan, mural itu sudah menyebar bahkan viral di dunia maya.

Mural ini bukan yang pertama, sebelumnya, seniman dunia asal Lithuania, Ernest Zacharevic telah meninggalkan empat karya muralnya di Kota Medan. Viral diantaranya ada di Jalan Perdana. 

Baca juga:

Seniman Ernest Zacharevic Buka Suara Perihal Karya Muralnya yang Rusak di Medan

Sempat Ramai Didatangi Wisatawan, Tempat Instagramable Ini Sepi dan Ditinggal Milenial

 

Setelah empat mural tersebut, tak disangka, karya mural kembali muncul. Uniknya, kali ini langsung dari tangan  Anak Medan, Genta Rekayasa.

Pria kelahiran Medan, 16 Januari 1994 ini berhasil menaikkan pariwisata kota Medan, khususnya Kawasan Kesawan.

 

 

Dijumpai Imaji di kantor Medan Creative Project, Jalan Beo, Genta tanpa segan menceritakan semua proses pembuatan mural yang telah menghabiskan dana puluhan juta tersebut.

Ternyata untuk bisa menuangkan karyanya di sepanjang tembok bangunan itu, butuh perjuangan yang lumayan berat.

 

Baca juga:

Ups! Mural Ciuman Bibir Donald Trump dan PM Israel Hiasi Dinding Tepi Barat Yerusalem

Peraih Grammy Awards Meriahkan Java Jazz Festival

 

"Perjuangannya lumayan sampai akhirnya karya itu jadi. Mulai dari perizinan, sampai akhirnya mulai pengerjaan. Balok-balik kita didatangi oknum keamanan minta uang, kemudian barang-barang kita juga banyak hilang," ujarnya. 

Diakui Genta, cita-citanya menggoreskan karyanya di tembok dinding di area Jalan Stasiun Kereta sudah lama disampaikkannya ke rekan-rekannya di Medan Creative Project jauh sebelum Ernest hadir di Medan.

Namun, pihaknya baru mengantongi izin dari kepala lingkungan tersebut sekitar beberapa bulan sebelum pengerjaan, April 2019 lalu. 

 

Baca juga:

WHO Rilis 10 Ancaman Kesehatan Global 2019

Viral! Video Tik Tok Wapres JK Joget Bareng Cucu

 

"Setelah dapat izin dari kepling, kita mulai kerja di akhir April dan mulai rutin saat bulan ramadhan. Kita start jam 10 malam sampai jam 3 pagi dibantu sama kawan-kawan yang ada di Medan Creative Project," kata Genta.

Lanjutnya, dalam proses pengerjaan juga tidak selancar yang ia bayangkan.

Setiap malam, diakui Genta, pihaknya sering didatangi sejumlah oknum untuk meminta uang rokok, atau uang minum.

"Tiap malam banyak yang datang, tapi apa yang mau dikasih. Paling kopilah, kami pun ngerjain ini semua pakai dana sendiri kan," ujarnya. 

 

Baca juga:

Ijeck Sebut Seniman Punya Peran dalam Pembangunan

Seniman Sumut Butuh Pemimpin Seperti Ini!

 

Agar proses pengerjaan aman, Genta juga sering mengaku proyek tersebut dari Pemko, namun tetap saja tidak bisa mengatasi pungli.

Bahkan sebanyak tujuh item alat pendukung mural hilang.

"Besi pijakan saat mau melukis di dinding atas, terus besi penyangga tangganya dan beberapa yang lainnya hilang. Ada sekitar 7 item hilang selama pengerjaan," ujar anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Samsuri Nasution dan alm Suyanti ini.

 

 

Pria yang juga mengidolakan Ernest ini mengatakan, perjuangan pahit tersebut tidak menipu hasil.

Ia mengajak semua seniman untuk terus semangat berbuat sebisa mungkin tanpa harus menunggu ada akses, atau pemerintah menyiapkan aksesnya.

"Perjuangan gak menipui hasil. Buat kawan-kawan, mulai aja dulu," katanya sembari mengatakan mural ini akan diresmikan pada 3 Agustus mendatang.

 

Baca juga:

Pesona Telangkai yang Santun, Tegas dan Padat

Keju Biru Asal Spanyol Termahal di Dunia, 

 

Untuk tema mural sendiri, pria yang hanya menamatkan sekolah sampai SMP ini menjelaskan, lebih ke human interest dan lebih ke ekspresi.

"Masing-masing sih, pendapat orang yang lihat. Tapi ini temanya lebih ke ekspresi aja," ujarnya 

Yah, tembok tua yang terkesan kumuh, dan bangunan dengan cat berwarna polos telah diubah sedemikian rupa menjadi tempat yang sangat artsy.

Pantauan Imaji, sebagian besar lukisan di sana menggambarkan tingkah polos dan lucu dari seorang anak kecil. 

Saat ditanya soal dana, Genta mengaku menghabiskan uang sekitar Rp100 ribu per hari setiap pengerjaan.

 

Baca juga:

Thailand Berlakukan Larangan Merokok di Rumah

Medan Masih Diguyur Hujan Lebat Malam Ini

 

Sehingga selama tiga bulan, ia sudah hampir menghabiskan dana sampai Rp30 jutaan.

"Uang sendiri, dibantu juga sama teman-teman Medan Creative Project," katanya.

Menutup pembicaraan, Genta tidak berharap apa-apa dari karyanya tersebut, karena menurutnya, ia sudah merasa lega karyanya sudah bisa dituangkan.

"Setelah ini, mau dicat ulang seperti semula yah terserahlah. Yah, kita lihat aja gimana masyarakat mengapresiasi atau menjaga seni ini. Jangan cuma bisa mengklaim ini punya Medan, tapi tidak bisa mengapresiasi seninya," katanya.

 

 


  • TAGS
  • seni
  • seniman
  • genta rekayasa
  • pajak ikan lama
  • stasiun kereta lama
  • mural
  • medan