Studi: Pura-pura Bahagia Justru Menyedihkan dan Berujung Stres

HEALTHY LIFE

Ilustrasi
14 September 2018
Studi: Pura-pura Bahagia Justru Menyedihkan dan Berujung Stres

IMAJI.LIVE, MEDAN – Membahagiakan diri sendiri dengan hal-hal yang menyenangkan tentu akan membawa mood ke tingkat yang baik. Selain merasakan ketenangan, kebahagiaan diri juga penting untuk menunjang kualitas pekerjaan atau aktivitas di lingkungan sekitar. 

Lantas, bagaimana dengan mereka yang pura-pura bahagia atau ingin terlihat bahagia? Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Emotion, menemukan bahwa terlalu menekankan kebahagiaan dapat membuat seseorang lebih cenderung terobsesi atas kegagalan dan emosi negatif. Hal ini tidak baik sebab akan membawa pada risiko stres dalam jangka panjang. 

“Kebahagiaan adalah hal yang baik, tetapi menetapkannya sebagai sesuatu yang ingin dicapai cenderung gagal,” jelas rekan penulis Brock Bastian, seorang psikolog sosial di University of Melbourne School of Psychological Sciences di Australia dilansir dari Time.

Dalam penelitiannya, para ilmuwan melibatkan dua eksperimen terpisah. Pada mulanya, sekelompok mahasiswa psikologi Australia diminta memecahkan 35 anagram dalam tiga menit - tetapi, tanpa sepengetahuan mereka, 15 tidak dapat dipecahkan.  

39 siswa menyelesaikan tugas ini di sebuah ruangan yang dihiasi poster, catatan, dan buku motivasi. Pengawas di ruangan juga diberi tahu oleh para peneliti untuk berbicara dengan riang, dan dengan tidak sengaja menyebutkan pentingnya kebahagiaan.

Sementara itu, 39 siswa lainnya menyelesaikan tes yang sama di ruangan netral, dengan pengawas netral. Sedangkan, kelompok ketiga dari 38 siswa menyelesaikan tugas yang dapat dipecahkan di sebuah ruangan yang menekankan kebahagiaan yang sama dengan ruang pertama.

 Setelah itu, para peneliti meminta semua siswa untuk melakukan latihan pernapasan, di mana mereka secara berkala ditanya tentang pemikiran  atau pola pikir. Dibandingkan dengan dua kelompok lainnya, siswa yang melakukan tugas yang mustahil di ‘ruang bahagia’ lebih cenderung berpikir kembali ke kegagalan mereka, terjebak pada pikiran negatif  pada gilirannya terkait dengan perasaan emosi negatif. 

Hasil ini pun tidak berbeda secara signifikan dengan siswa yang berada di dua ruangan lainnya.

"Ketika seseorang menempatkan tekanan besar pada diri untuk merasa bahagia, atau berpikir bahwa orang lain di sekitar terlihat emosional dalam memandang pengalaman negatif, maka mereka akan cenderung lebih banyak mengirim sinyal kegagalan,” kata Bastian. 

Bastian mengatakan bahwa penelitian ini menggarisbawahi pentingnya mengetahui dan menerima bahwa perasaan tidak bahagia adalah normal dan sehat. 

“Kami telah berevolusi untuk mengalami serangkaian keadaan emosional yang kompleks, dan sekitar setengahnya tidak menyenangkan. Ini tidak berarti mereka kurang berharga, atau membuat mereka mengurangi kualitas hidup kita,” tuturnya. 

Faktanya, penelitian terbaru menunjukkan bahwa mengalami emosi negatif pada akhirnya dapat meningkatkan kebahagiaan. Studi baru menemukan bahwa situasi yang membuat stres atau tidak menyenangkan dapat membantu orang memproses berita buruk.  

Sama seperti kata pepatah, Bastian juga menambahkan bahwa kegagalan bisa sangat berharga untuk pembelajaran dan pertumbuhan. 

"Kegagalan sangat penting untuk inovasi, pembelajaran dan kemajuan. Setiap organisasi yang sukses tahu bahwa kegagalan adalah bagian dari jalan menuju kesuksesan, jadi kita perlu tahu bagaimana menanggapi dengan baik terhadap kegagalan,” pungkasnya.


  • TAGS
  • bahagia
  • penelitian